JAKARTA - Fenomena alam yang tidak terduga kini tengah dialami oleh sejumlah petani di wilayah ibu kota.
Luapan air yang merendam area persawahan dalam waktu lama telah mengubah fungsi lahan pertanian menjadi tempat penampungan air.
Kondisi ini memaksa para penggarap lahan untuk memutar otak agar tetap bisa mendapatkan penghasilan di tengah situasi sulit.
Lahan yang seharusnya ditanami padi kini justru dimanfaatkan oleh warga sekitar sebagai lokasi pemancingan ikan secara dadakan.
Transformasi Paksa Lahan Pertanian Akibat Tingginya Intensitas Curah Hujan
Intensitas hujan yang sangat tinggi dalam beberapa pekan terakhir menyebabkan sistem drainase di sekitar area persawahan tidak mampu menampung debit air.
Akibatnya, petak-petak sawah yang baru saja ditanami terendam banjir dengan ketinggian yang cukup signifikan sehingga tanaman padi menjadi rusak.
Melihat kondisi sawah yang menyerupai danau kecil, para petani akhirnya memutuskan untuk melepaskan bibit ikan ke dalam genangan air tersebut.
Langkah ini diambil sebagai bentuk adaptasi terhadap kegagalan panen yang sudah dipastikan terjadi akibat bencana hidrometeorologi yang melanda Jakarta.
Peristiwa unik namun memprihatinkan ini terpantau pada Selasa 3 Februari 2026 di salah satu sudut lahan hijau yang tersisa.
Para petani mengaku merugi hingga jutaan rupiah karena modal untuk bibit padi dan pupuk hanyut terbawa arus banjir yang deras.
Namun, kehadiran kolam pemancingan dadakan ini ternyata menarik minat warga dari berbagai wilayah untuk datang dan menyalurkan hobi mereka.
Setidaknya, pendapatan dari jasa pemancingan dan penjualan ikan hasil tangkapan dapat menutupi sebagian kecil kerugian operasional yang diderita petani.
Dampak Kegagalan Panen Terhadap Kesejahteraan Para Petani Ibu Kota
Meskipun aktivitas pemancingan terlihat ramai, para petani tetap berharap genangan air segera surut agar mereka bisa kembali bercocok tanam.
Kegagalan panen padi secara total menjadi pukulan berat bagi ketahanan pangan keluarga para penggarap lahan di pinggiran Jakarta tersebut.
Tanaman padi yang membusuk akibat terendam air selama berhari-hari sudah tidak mungkin lagi untuk diselamatkan meskipun air surut dalam waktu dekat.
Situasi ini semakin memperparah kondisi ekonomi para petani yang selama ini memang sudah terhimpit oleh menyempitnya luas lahan pertanian.
Banyak petani yang mengeluhkan minimnya bantuan alat pompa pembuang air dari pihak terkait untuk mengeringkan lahan yang terendam banjir tersebut.
Tanpa adanya intervensi teknis, lahan sawah tersebut diprediksi akan tetap menjadi kolam air hingga musim kemarau mendatang tiba di Jakarta.
Biaya untuk memulai kembali penanaman padi dari awal membutuhkan modal yang tidak sedikit, terutama untuk pengadaan bibit dan perbaikan tanah.
Ketergantungan pada alam membuat nasib para petani sangat rentan terhadap perubahan iklim yang semakin tidak menentu polanya saat ini.
Respons Warga Sekitar Terhadap Kehadiran Kolam Pemancingan Dadakan
Di sisi lain, warga sekitar menyambut kehadiran kolam pemancingan dadakan ini dengan antusias sebagai sarana hiburan murah di tengah kota.
Banyak warga yang datang membawa peralatan pancing lengkap untuk mengisi waktu luang sembari menikmati suasana area persawahan yang kini berubah rupa.
Ikan-ikan yang ada di dalam genangan air tersebut sebagian berasal dari bibit yang ditebar petani dan sebagian lagi terbawa arus banjir.
Fenomena ini menjadi pemandangan kontras di antara gedung-gedung tinggi yang menjulang di sekitar area lahan pertanian yang tengah terendam tersebut.
Aktivitas memancing ini juga menciptakan peluang usaha baru bagi warga sekitar yang menjual umpan pancing serta makanan ringan di pinggiran sawah.
Meski demikian, keamanan di sekitar lokasi tetap menjadi perhatian utama mengingat kedalaman genangan air yang bisa membahayakan keselamatan bagi anak-anak.
Para petani tetap memantau aktivitas warga di lahan mereka sembari menjaga sisa-sisa alat pertanian yang masih bisa diselamatkan dari rendaman air.
Keceriaan warga yang memancing seolah menutupi kesedihan mendalam para petani yang harus kehilangan mata pencaharian utama mereka musim ini.
Perlunya Solusi Permanen Penanganan Banjir Di Area Persawahan Jakarta
Kejadian sawah yang berubah menjadi kolam pemancingan ini diharapkan menjadi perhatian bagi pemerintah provinsi dalam membenahi tata ruang kota.
Pembangunan tanggul serta perbaikan saluran irigasi primer sangat dibutuhkan untuk melindungi sisa lahan pertanian yang masih ada dari ancaman banjir berulang.
Tanpa solusi permanen, setiap kali musim hujan tiba, para petani akan selalu dihantui oleh risiko gagal panen yang sangat merugikan.
Ketahanan pangan di tingkat lokal Jakarta sangat bergantung pada bagaimana pemerintah mengelola lahan-lahan produktif ini dari gangguan bencana alam rutin.
Pemerintah daerah diharapkan juga memberikan kompensasi atau bantuan modal bagi para petani yang terdampak langsung oleh bencana banjir tahun ini.
Program asuransi pertanian perlu disosialisasikan lebih luas agar para petani memiliki jaminan finansial saat menghadapi kondisi darurat seperti yang terjadi sekarang.
Transformasi sawah menjadi kolam pemancingan hanyalah solusi jangka pendek yang bersifat darurat dan tidak bisa dijadikan sebagai tumpuan ekonomi tetap.
Harapan besar tertuju pada perbaikan sistem pengendalian air agar fungsi lahan sawah sebagai produsen padi dapat segera dikembalikan seperti sediakala.