JAKARTA - Keberhasilan program strategis nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya bergantung pada komposisi menu, tetapi juga pada ketatnya pengawasan di lini produksi. Di Kabupaten Pamekasan, standar operasional menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar. Kedisiplinan dalam menjalankan protokol kesehatan dan ketepatan waktu distribusi menjadi pilar utama dalam memastikan setiap paket makanan yang diterima siswa memiliki kualitas nutrisi yang optimal dan aman dari kontaminasi.
Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Khusus Kabupaten Pamekasan, Nurul Hidayat, memberikan penekanan khusus pada aspek disiplin ini. Baginya, setiap tahapan di dapur produksi adalah rantai yang saling berkaitan. Jika satu mata rantai diabaikan, maka risiko terhadap kesehatan peserta didik akan meningkat. Oleh karena itu, penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) dari Badan Gizi Nasional (BGN) menjadi panduan mutlak yang harus dipatuhi oleh seluruh personel dapur.
Dayat mengatakan, SOP dari Badan Gizi Nasional (BGN) wajib diterapkan oleh setiap pengelola dapur MBG untuk memastikan makanan sampai kepada siswa dalam keadaan aman dan layak konsumsi. Langkah ini merupakan bentuk proteksi dini terhadap potensi masalah kesehatan yang mungkin muncul akibat kelalaian prosedur.
Filter Ketat Bahan Baku dari Pintu Masuk Dapur
Upaya menjamin higienitas produk akhir dimulai jauh sebelum kompor dinyalakan. SPPG Khusus Pamekasan menerapkan sistem seleksi dan pemeriksaan yang ketat terhadap setiap bahan pangan yang masuk ke gudang penyimpanan. Hal ini penting mengingat bahan baku segar seperti sayuran, daging, dan sumber protein lainnya memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap bakteri jika tidak dikelola dengan benar.
Menurut Dayat, untuk menjaga kehigienisan makanan dapat dimulai dari memeriksa kelayakan bahan baku yang datang dari pemasok. Dengan memastikan bahan baku yang diterima dalam kondisi prima, proses pengolahan selanjutnya akan jauh lebih terkendali. Pengawasan ini mencakup pemeriksaan kesegaran, kebersihan, hingga kepastian bahwa bahan tersebut bebas dari zat berbahaya.
"Untuk menjamin keamanan menu, kami tetap menjalankan sesuai SOP dari BGN mulai dari persiapan hingga pengolahan bahan baku," ucapnya pada Kamis, 5 Februari 2026. Standarisasi ini juga mencakup sanitasi peralatan masak dan kebersihan personel yang bertugas di dapur guna menghindari kontaminasi silang.
Manajemen Waktu dan Skema Distribusi Bertahap
Selain faktor kebersihan, tantangan terbesar dalam program MBG adalah melawan waktu. Makanan bergizi memiliki "jendela waktu" tertentu sebelum kualitas gizinya menurun atau teksturnya berubah menjadi tidak layak. Oleh karena itu, SPPG Khusus Pamekasan telah menyusun jadwal operasional yang sangat presisi, dimulai sejak dini hari.
Termasuk jam distribusi juga menjadi faktor krusial untuk menjaga keamanan, kesegaran, dan kandungan gizi makanan agar tidak rusak saat dikonsumsi oleh siswa. Ketepatan waktu distribusi memastikan bahwa makanan dikonsumsi dalam suhu yang tepat dan dalam kondisi yang masih segar, sehingga manfaat nutrisinya dapat terserap maksimal oleh tubuh siswa.
Nurul Hidayat merinci jadwal operasional timnya yang sangat padat guna memenuhi kebutuhan ribuan siswa. Strategi distribusi dilakukan secara bertahap agar penanganan makanan di sekolah dapat berjalan lebih teratur dan sesuai dengan jadwal istirahat masing-masing tingkatan pendidikan.
"Kami mulai memasak pukul 02.00 WIB. Kemudian, mendistribusikan dalam dua tahap per hari, yaitu pukul 07.00 WIB untuk TK dan SD, selanjutnya pukul 09.30 WIB untuk SMP dan SMA," katanya, mengakhiri.
Pembagian waktu distribusi ini bukan tanpa alasan. Dengan mendahulukan tingkat TK dan SD, pengelola dapur memastikan anak-anak usia dini mendapatkan asupan gizi lebih awal. Sementara itu, jeda waktu menuju distribusi SMP dan SMA digunakan untuk memastikan proses pengemasan tahap kedua tetap terjaga kualitasnya. Kedisiplinan waktu ini menjadi bukti komitmen SPPG Khusus Pamekasan dalam mengawal mandat Badan Gizi Nasional demi menciptakan generasi yang lebih sehat dan berdaya saing melalui program MBG.